
KENALI STRESS .... ???
Kehidupan manusia sangatlah unik,karena manusia berbeda dengan hewan ,selain hidup sebagai individu manusia juga hidup dalam kelompok social dengan segala aktifitas ,sentiment dan interaksi serta keterlibatan dengan pola kultur yang telah diturunkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Hidup akan menjadi sangat indah seandainya kebutuhan manusia baik psikologi maupun biologi didapt secara mudah, akan tetapi sebagai mana kita ketahui untuk kedua hal tersebut diatas akan ditemui begitu banayak halangan termasuk lingkungan dan individu itu sendiri yang saling mempengaruhi ,halangan – halangan inilah yang bagi seseorang kadang-kadang dapat menimbulkan stress yang cukup berat. A. Pengertian stress
Istilah stress secara histories telah lama digunakan untuk menjelaskan suatu tuntutan untuk beradaptasi dari seseorang, ataupun reaksi seseorang terhadap tuntutan tersebut. Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif ,apresiawa stress l menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan,menyiagakan atau mambuat aktif organisme. Sebelumnya Selye (1936 ) telah menggambarkan bahwa strees adalah suatu sindrom biologic atau badaniah.Didalam eksperimennya, seekor tikus percobaan mengalami kedinginan pembedahan atau kerusakan sum-sum tulang belakang, akan memperlihatkan suatu sindroma yang khas.Gejala-gejala itu tidak tergantung pada jenis zat atau ruda yang menimbulkan kerusakan,sindroma ini lebih merupan perwujudan suatu keadaan yang dinamakan stress denagn gejala-gejala sistembilogik mahluk hidup itu. Selye menekankan bahwa stress terutama mewujudkan diri sebagai suatu reaksi badaniah yan dapat diamati dan diukur.Stres merupakan suatu reaksi penyusuaian diri,suatu sindroma penyusuaian umum terhadap rangsangan yang berbeda-beda. Menurut Mason (1971 ) membantah konsep yang mengatakan bahwa stress hanyalah merupak badaniah saja. Ditunjukkkan nya bahwa daya adaptasi seseoarang itu tergantung pada faktor-faktor kejiwaan atau psikologiknya yang menyertai stresor. Stres bukanlah konsep faal saja, lebih banyak dilihat sebagai konsep perilaku, setiap reaksi organisme terhadap stresor memungkinkan sekali terlebih dahulu dimulai oleh kelainan perilaku dan kemudian mungkin baru terjadi akibat faal, kemudian Mason (1976 ) menunjukkan bahwa terdapat pola hormonal yang berbeda terhadap stresor fisik yang berbeda. Pada penelitain Wolf dan Goodel ( 1968 ) bahwa individu-individu yang mengalami kesukaran dengan suatu sistem organ , cenderung akan bereaksi etrhadap stresor dengan gejala dan keluhan dalam sistem organ yang sama.Kondisi sosial, perasaan dan kemampuan untuk menanggulangi masalah, ternyata mempengaruhi juga aspek yang berbeda- beda dari reaksi terhadap stres.
B. Sumber dan macam stresor
1. Kondisi biologik. - Berbagai penyakit infeksi , trauma fisik dengan kerusakan organ biologik,mal nutrisi, kelelahan fisik, kekacauan fungsi biologik yang kontinyu. 2. Kondisi Psikologik. - Berbagai konflik dan frustasi yang berhubungan dengan kehidupan moderen. - berbagai kondisi yang mengakibatkan sikap atau perasaan rendah diri (self devaluation ) seperti kegagalan mencapai sesuatu ynga sangt di idam-idamkan. - berbagai keadaan kehilangan seperti posisi, keuangan, kawan ,atau pasangan hidup yang sangat dicintai. - berbagai kondisi kekurangan yang dihayati sebagai sesuatu cacat yang sangat menentukan seperti penampilan fisik, jenis kelamin, usia, intelegensi dan lain-lain. - berbagai kondisi perasaan bersalah terutama yang menyakut kode moral etika yang dijunjung tinggi tetapi gagal dilaksanakan. 3. Kondisi Sosio Kultural. Kehidupan moderen telah menempatkan manusia kedalam suatu kancah stress sosio kultural yang cukup berat. Perubahan sosio ekonomi dan sosio budaya yang datang secara cepat dan bertubi – tubi memerlukan suatu mekanisme pembelaan diri yang memadai. Stresor kehidupan moderen ini diantaranya. : - berbagai fluktuasi ekonomi dan segala akibatnya ( menciutnya anggaran rumah tangga , pengangguran dan lain-lain ). - Perceraian, keretakan rumah tangga akibat konflik ,kekecewaan dan sebagainya. - Persaingan yang keras dan tidak sehat. - Diskriminasi dan segala macam keterkaitannya akan membawa pengaruh yang menghambat perkembangan individu dan kelompok. - Perubahan sosil yang cepat apabila tiadak diimbangi dengan penyusuaian etika dan moral konvisional ynag memadai akan terasa ancaman. Dalam kondisi terburuk nilai materikalistik akan mendominasi nilai moral spiritual yang akan menimbulkan benturan konflik yang mungkin sebagian terungkap, sedangkan sebagian lainnya menjadi beban perasaan individu atau kelompok.
C. Gejala dan tanda Stres
Stres memiliki dua gejala, yaitu gejala fisik dan psikis.
a. Gejala Fisik Gejala stres secara fisik dapat berupa jantung berdebar, napas cepat dan memburu / terengah – engah, mulut kering, lutut gemetar, suara menjadi serak, perut melilit, nyeri kepala seperti diikat, berkeringat banyak, tangan lembab, letih yang tak beralasan, merasa gerah, panas , otot tegang.
b. Gejala Psikis Keadaan stres dapat membuat orang – orang yang mengalaminya merasa gejala – gejala psikoneurosa, seperti cemas, resah, gelisah, sedih, depresi, curiga, fobia, bingung, salah faham, agresi, labil, jengkel, marah, lekas panik, cermat secara berlebihan. Sebagai contoh dr. Camran Nezhat, seorang ahli bedah laparoskopigikologi dari Stanford University. Seandainya seseorang yang telah direncanakan untuk dioperasi berkata kepada saya bahwa ia sedang panik dan tidak mau dioperasi pada hari itu, maka saya akan membatalkan jadwalnya. Menurut Nezhat, setiap ahli bedah mengetahui jika seorang pasien merasa sangat takut, hasil operasinya akan kacau. Ia mungkin akan mengalami pendarahan hebat, lebih mudah terkenal infeksi dan komplikasi, memakan waktu lama untuk sembuh. Jadi, akan jauh lebih baik apabila mereka tenang.
D. Hubungan antara stres dan tubuh Tubuh kita merespon stres yang berkepanjangan dengan berbagai macam cara. Tampaknya ada yang lebih daripada sekedar sindroma klasik yang berhubungan dengan respon melawan atau melarikan diri, seperti, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang meningkat. Ada yang lain yaitu sindroma penyakit stres, dimana stres yang berkepanjangan cenderung menyebabkan nausea, rasa lelah, depresi, rasa kantuk, meningkatnya kepekaan akan rasa sakit, sakit kepala, demam, dan perasaan kehilangan tenaga atau kalah. Mungkin juga terjadi penurunan atau peningkatan respon kekebalan, membaik dan memburuknya kapasitas mental, meningkat dan menurunnya kepekaan terhadap rasa sakit. Menurut Dr. Selye mendeskripsikan stres dalam tiga keadaan respon, yang ia sebut sebagai Sindrom Adaptasi Umum, yaitu :
a. Tingkat Alarm ( Alarm Reaction ). Pada saat ada ancaman, tingkat alarm pun diaktifkan dengan cara segera mengaktifkan kelenjar, merangsang sistem saraf otonom ( simpatik, diluar kendali kesadaran ), lalu hormon – hormon dilepaskan kedalam darah, yang merangsang kelenjar adrenal dan mengluarkan hormon kelenjar adrenalin dan kortisol kedalam sistem tubuh. Pengaruh sistem tersebut adalah membuat posisi tubuh kita ada dalam keadaan siap bertempur dan waspada penuh. Pengaktifan sistem stres ini mengarah kewaspadaan lebih lanjut, dimana fungsi kognitif lebih baik, lebih siaga, termasuk peningkatan kemampuan untuk menahan rasa sakit, mempertahankan aliran darah dan denyut jantung dan berbagai perubahan.
b. Tingkat Adaptasi ( Resistensi). Pada tahapan ini organisme telah menyesuaikan diri dengan stresor dan mempertahankan diri sehingga gejala semula akan menghilang. Disini telah terjadi kekebalan secara aktif maupun pasif. Dan apabila memutuskan untuk menghadapi atau melawan stresor tersebut, kita masuk ke stres tingkat resistensi. Pada tahapan ini, ditandai dengan jantung berdenyut kencang dan seluruh kepekaan meningkat tajam.
c. Tingkat kepayahan ( Exhaution ). Setelah stresor pergi, denyut jantung seketika melambat, dan keletihan mulai terasa. Namun demikian, didalam dunia modern dan era komputerisasi ini, tingkat resistensi dan keletihan berlangsung dalam waktu lama,secara terus - menerus, kompleks, dan penuh ancaman. Akibatnya timbullah penyakit adaptasi seperti Hipertensi, tukak lambung, Encok, Asthma, Reaksi Alergi, Penyakit jantung dan lain – lain. Yang harus menjadi perhatian kita adalah bahwa tidak semua tekanan stres berefek buruk. Hans Selye ( Dalam buku : dr.Iskandar Junaidi, Hlm : 116 ), membahas tekanan yang baik dan bagaimana caranya agar tiap individu dapat dengan mudah menemukan sebuah tekanan optimal bagi dirinya. Ia mengatakan bahwa tekanan bukanlah hal yang harus dihindari, jika seseorang tidak menemukan tingkat stres yang optimal untuk dirinya, ia akan menderita karena tidak mempunyai hal penting untuk diperjuangkan atau dikerjakan, atau merasa kelelahan akibat aktivitas berlebihan yang tidak terarah. Bersamaan dengan itu, untuk mencapai hasil maksimal, emosi anda harus ikut dilibatkan dan harus memiliki rangsangan atau stres yang mencukupi untuk mulai menunjukkan kepuasan, kegembiraan, atau kesenangan dan oleh sebab itu kerjakanlah sesuatu pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan kita dan jangan melampuinya, bekerjalah dengan bijaksana. Sumber. : - Junaidi dr. Iskandar. 2006 . The Power of Soul for Great Health. Jakarta. PT Bhuana Ilmu Populer. - Hanafiah Zulfadin, Rusman, dkk. 1989. Stres, Kecemasan dan Depresi. Surabaya. Yayasan Kesehatan Jiwa ” Aditama ”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar